METODE LUMPUR AKTIF SEBAGAI APLIKASI REAKSI REDOKS


METODE LUMPUR AKTIF SEBAGAI APLIKASI REAKSI REDOKS

DI SUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS KIMIA.
OLEH :
ZABRINA ABIGAIL LOUISA (36)
X MIPA 4
SMA NEGERI 1 ASEMBAGUS
TAHUN PELAJARAN 2019/2020


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Banyaknya sungai yang ada di perkotaan maupun di pedesaan berbau tidak sedap dan kotor. Masalah tersebut timbul akibat terdapat banyaknya pembuangan sambah dan pembuangan limbah cair ke sungai. Limbah cair yang dibuang ke sungai seharusnya di olah terlebih dahulu agar sungai tetep bersih dan dapat digunakan untuk irigasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya menggunakan cabang ilmu kimia. Dalam kimia terhadap Konsep Redoks yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan lingkungan semacam pengolahan air kotor. Saya harap para pembaca dapat termotivasi untuk menjaga sungai dengan mengolah limbah cair sebelum dibuang.

1.2  Rumusan Masalah
     1)  Pengertian Reaksi Redoks
     2) Pengertian lumpur aktif
     3) Macam-macam limbah yang dapat diolah melalui lumpur aktif.
     4) Metode pengolahan lumpur aktif. 

1.3  Tujuan
Tujuan pembuatan artikel ini adalah untuk mengetahui dan memahami reaksi rekdos dalam metode lumpur aktif sehingga dapat menerapkannya dalam pengolahan limbah cair.

BAB 2
 PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Reaksi Redoks
Reaksi redoks atau reaksi reduksi dan oksidasi dipelajari dalam kimia dimana pada umumnya terjadi di alam maupun dalam percobaan kimia. Reaksi ini melibatkan penurunan bilangan oksidasi yang selanjutnya disebut dengan reaksi reduksi, dan kenaikan bilangan oksidasi yang disebut dengan reaksi oksidasi.

2.2  Pengertian lumpur aktif
Proses “lumpur aktif” (Activated sludge) adalah suatu proses aerobic (oksidasi dengan oksigen) yang berlangsung dalam suatu bak pengolahan limbah. Bak tesebut berisi partikel-partikel lumpur yang bercampur (tersuspensi) di dalam tangki aerasi.

2.3  Macam-macam limbah yang dapat diolah melalui lumpur aktif.
Berikut ini merupakan berbagai macam limbah cair yang dapat diolah menggunakan Metode Lumpur Aktif :
1. Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga merupakan limbah yang berasal dari perumahan, pusat perdagangan, perkantoran, hotel, rumah sakit, dan lain-lain. Limbah jenis ini sangat mempengaruhi tingkat kekeruhan, kebutuhan oksigen biokimia (BOD),  jumlah oksigen terlarut (chemical oxygen demand/COD), kandungan organik dan sistem pasokan air.
2. Limbah Industri.
Sifat-sifat limbah industri relatif berfariasi tergantung pada sumbernya. Limbah jenis ini mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD, COD, kandungan organiknya, dan sruktur kimia air akibat masuknya zat-zat organik yang mencemari.
3. Limbah Pertanian.
Limbah ini berasal dari proses sedimentasi akibat erosi lahan, unsur kimia limbah hewan atau pupuk (umumnya fosfor dan nitrogen), dan unsur kimia dan pestisida.

2.4  Tahap-tahap Metode Pengolahan Lumpur Aktif
Berikut beberapa tahapan untuk mengolah limbah pabrik yang berbentuk cair menggunakan lumpur aktif.
1. Tahap awal
Pada tahap ini dilakukan pemisahan benda-benda asing seperti kayu, bangkai binatang, pasir, dan kerikil. Sisa-sisa partikel digiling agar tidak merusak alat dalam sistem dan limbah dicampur agar laju aliran dan konsentrasi partikel konsisten.
2. Tahap primer
Tahap ini disebut juga tahap pengendapan. Partikel-partikel berukuran suspensi dan partikel-partikel ringan dipisahkan, partikel-partikel berukuran koloid digumpalkan dengan penambahan elektrolit seperti FeCl3, FeCl2, Al2(SO4)3, dan CaO.
3. Tahap sekunder
Tahap sekunder meliputi 2 tahap yaitu tahap aerasi (metode lumpur aktif) dan pengendapan. Pada tahap aerasi oksigen ditambahkan ke dalam air limbah yang sudah dicampur lumpur aktif untuk pertumbuhan dan berkembang biak mikroorganisme dalam lumpur. Dengan agitasi yang baik, mikroorganisme dapat melakukan kontak dengan materi organik dan anorganik kemudian diuraikan menjadi senyawa yang mudah menguap seperti H2S dan NH3 sehingga mengurangi bau air limbah. Tahap selanjutnya dilakukan pengendapan. Lumpur aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya dibuang. Lumpur yang mengendap inilah yang disebut lumpur bulki.
4. Tahap tersier
Tahap ini disebut tahap pilihan. Tahap ini biasanya untuk memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah lingkungan seperti senyawa nitrat, fosfat, materi organik yang sukar terurai, dan padatan anorganik. Contoh-contoh perlakuan pada tahap ini sebagai berikut:
a. Nitrifikasi/denitrifikasi
Nitrifikasi adalah pengubahan amonia (NH3 dalam air atau NH4+) menjadi nitrat (NO3-) dengan bantuan bakteri aerobik. Reaksi:
2 NH4+(aq) + 3 O2(g) -> 2 NO2-(aq) + 2 H2O(l) + 4 H+(aq)
2 NO2- (aq) +O2(g)à2 NO3- (aq)
Denitrifikasi adalah reduksi nitrat menjadi gas nitrogen bebas seperti N2, NO, dan NO2.
Senyawa NO3 à gas nitrogen bebas
b. Pemisahan fosfor
Fosfor dapat dipisahkan dengan cara koagulasi/ penggumpalan dengan garam Al dan Ca, kemudian disaring.
Al2(SO4)3+14H2O(s) + 2 PO43-(aq)à2 AIPO4(s) + 3 SO42-(aq) + 14 H2O(l)
5 Ca(OH)2(s) + 3 HPO42-(aq)à Ca5OH(PO4)3(s) + 6 OH-(aq) + 3 H2O(l)
c. Adsorbsi oleh karbon aktif untuk menyerap zat pencemar, pewarna, dan bau tak sedap.
d. Penyaringan mikro untuk memisahkan partikel kecil seperti bakteri dan virus.
e. Rawa buatan untuk mengurai materi organik dan anorganik yang masih tersisa dalam air limbah.
5. Disinfektan
Disinfektan ditambahkan pada tahap ini untuk menghilangkan mikroorganisme seperti virus dan materi organic penyebab bau dan warna. Air yang keluar dari tahap ini dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan industri, contoh: Cl2. Reaksi: Cl2(g) + H2O(l)àHClO(aq) + H+(aq) + Cl-(aq)
6. Pengolahan padatan lumpur
Padatan lumpur dari pengolahan ini dapat diuraikan bakteri aerobik atau anaerobik menghasilkan gas CH4 untuk bahan bakar dan biosolid untuk pupuk.
Akan tetapi dalam pelaksanaannya metode lumpur aktif  menemui kendala-kendala seperti:
1.  Diperlukan areal instalasi pengolahan limbah yang luas, karena prosesnya berlangsung lama.
2.  Menimbulkan limbah baru yakni lumpur bulki akibat pertumbuhan mikroba    
     berfilamen yang berlebihan.
3.  Proses operasinya rumit karena membutuhkan pengawasan yang cukup ketat.
Berdasarkan berbagai penelitian, kelemahan metode lumpur aktif tersebut dapat
diatasi dengan cara:
Menambahkan biosidayaitu H2O2 atau klorin ke dalam unit aerasi. Penambahan 15 mg/g dapat menghilangkan sifat bulki lumpur hingga dihasilkan air limbah olahan cukup baik. Klorin dapat menurunkan aktivitas mikroba yang berpotensi dalam proses lumpur aktif.




BAB 3
PENUTUP
1.3  Tujuan
Berdasarkan penelitian kami simpulkan bahwa metode lumpur aktif sebagai penerapan reaksi redoks sangat efektif dalam mengolah limbah cair. Akan tetapi, masih terdapat beberapa kendala dalam pengaplikasiannya. Namun, kendala tersebut masih dapat diatasi. Dan metode ini sangat bermanfaat untuk mengolah limbah cair. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan tentang metode lumpur aktif sebagai penerapan reaksi redoks. 




Post ini saya kutip dari : 

Komentar